Menjaga Integritas TNI: Andre Politik Minta Media Berhenti Menggiring Opini

Menjaga Integritas TNI: Andre Politik Minta Media Berhenti Menggiring Opini




Pangkalpinang - Kasus dugaan pengeroyokan yang diduga melibatkan oknum anggota TNI Angkatan Darat terhadap Asnadi, seorang warga di Mentok, Kabupaten Bangka Barat, terus memunculkan kontroversi di Provinsi Bangka Belitung bahwa antara oknum anggota TNI dengan korban tidak ada perdamaian atau masih terus dipersoalan oleh sejumlah media. Sabtu (20/4/2024)
Meskipun kasus ini telah menjadi perbincangan hangat di berbagai kalangan, namun diketahui saat ini sudah ada perdamaian antara pelaku khususnya anggota TNI dengan korban dan sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
Diketahui, beberapa waktu lalu usai kejadian Komandan Yonif 147 KGJ, Letkol Inf  Yokki Firmansyah, mengambil sikap tegas dengan langsung mendatangi korban dan bersedia bertanggung jawab serta memberikan bantuan apabila terbukti ada keterlibatan anggota TNI dalam kasus penganiayaan  tersebut. Bahkan sudah membuat surat pernyataan dan video yang menegaskan tidak ada pemukulan atau penganiayaan oleh anggotanya.
"Korban dengan sadar dan tanpa paksaan telah mengakui bahwa tidak ada keterlibatan oknum anggota kami dalam kasus pengeroyokan yang menjadi viral," ungkap Yokki saat itu di jejaring media KBO Babel beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Andre Pascal Posshumah atau yang dikenal sebagai Andre Politik, seorang aktivis pemuda Bangka Belitung, turut angkat bicara mengenai permasalahan ini. 

Menurut Andre, ada upaya penggiringan opini dan penurunan citra TNI dalam pemberitaan media tersebut. 

Ia menekankan pentingnya mengutamakan fakta dan bukti yang kuat dalam setiap pemberitaan, bukan sekadar opini atau asumsi semata. Selain itu upaya klarifikasi dan cover both side juga harus berimbang tidak bersifat tendesius.

Andre menyoroti bahwa istilah "oknum TNI AD" yang kerap muncul dalam pemberitaan dapat merugikan integritas seluruh prajurit TNI Angkatan Darat. 

Ia meminta agar media menjaga kondusifitas dan mengedepankan silaturahmi serta kode etik jurnalistik dalam menyampaikan berita. 

"Saya harap stop pemberitaannya, jangan menggiring opini, dan jangan ada lagi kata 'oknum TNI AD' karena hal ini dapat merugikan seluruh prajurit TNI AD, dan kalau korban sudah menyatakan tidak ada pemukulan yang oleh anggota TNI, ya seyogya jangan digiring terus seolah-olah korban dipaksa ada pemukulan oleh anggota TNI, kan surat pernyataan dan rekam video korban tidak menyebutkan anggota TNI melakukan penganiayaan," terang Andre.

Andre juga mengajak media untuk bekerja sama dengan TNI, mengingat TNI merupakan mitra terbaik dalam menjaga stabilitas dan keamanan di wilayah. 

Ia menegaskan bahwa informasi yang disampaikan oleh media haruslah akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, tanpa mengandalkan asumsi atau informasi yang belum terverifikasi dengan baik.

Pernyataan Andre ini didukung penuh oleh Komandan Yonif 147 KGJ, Letkol Inf Yokki Firmansyah, yang mengharapkan adanya kerjasama yang baik antara media dan TNI untuk menjaga keamanan dan kestabilan di wilayah tersebut. 

"Kami berharap media dapat bekerja sama dengan kami untuk menyampaikan informasi yang akurat dan tidak menggiring opini yang dapat merugikan TNI," ucap Yokki.

Pernyataan Andre Politik dan Komandan Yonif 147 KGJ menjadi sorotan dalam kasus dugaan pengeroyokan yang masih dalam penyelidikan. 
Keduanya mengajak semua pihak untuk menjaga integritas dan menjunjung tinggi etika dalam penyampaian berita, demi terwujudnya informasi yang berkualitas dan mendukung terciptanya keamanan serta keadilan bagi semua pihak. (KBO Babel)

Posting Komentar

0 Komentar