Tingkat Inflasi di Tanjung Pandan Melonjak, BPS Ungkap Penyebabnya

Tingkat Inflasi di Tanjung Pandan Melonjak, BPS Ungkap Penyebabnya


Jakarta, Okepak.com -- Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis data inflasi untuk bulan September 2023. Hasil pengamatan BPS menunjukkan bahwa inflasi pada bulan tersebut mencapai 0,19% secara bulanan (mtm). Angka ini menunjukkan kenaikan harga-harga di sebagian besar wilayah di Indonesia, dengan sejumlah daerah mengalami inflasi yang lebih signifikan daripada yang lain. Puncaknya, Tanjung Pandan, Kabupaten Belitung, menjadi daerah dengan inflasi tertinggi.

Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dari 90 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang diamati, sebanyak 73 kota mengalami inflasi. Dari jumlah tersebut, 46 kota mengalami inflasi yang lebih tinggi daripada tingkat inflasi nasional. Sementara itu, 17 kota lainnya justru mengalami deflasi, yang artinya terjadi penurunan harga-harga barang dan jasa.

"Sebaran inflasi tertinggi dan deflasi terdalam di masing-masing pulau adalah pulau Sumatera mengalami inflasi tertinggi terjadi di Tanjung Pandan sebesar 1,41%, terendah di Padang 0,07%," ungkap Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, pada Senin (2/10/2023).

Data yang diperoleh dari BPS juga memperlihatkan bahwa seluruh pulau di Indonesia mengalami inflasi, dengan perbedaan angka inflasi yang signifikan. Di Pulau Jawa, contohnya, semua kota mengalami inflasi, dengan tingkat inflasi tertinggi tercatat di Sumenep sebesar 0,72%, sementara inflasi terendah terjadi di Banyuwangi dengan angka 0,05%.

Pulau Kalimantan juga tidak luput dari peningkatan harga-harga, dengan inflasi tertinggi terjadi di Kota Baru sebesar 0,34%, dan deflasi terdalam tercatat di Tanjung Selor sebesar 0,44%.

Sementara itu, di wilayah Pulau Sulawesi, kota Kendari mencatat inflasi tertinggi sebesar 0,38%, sedangkan deflasi terdalam terjadi di kota Kotamobagu dengan angka 0,39%. Di Maluku Papua, inflasi tertinggi tercatat di kota Tua sebesar 0,61%, sementara deflasi terdalam terjadi di Manokwari dengan tingkat inflasi mencapai 1,70%.

Amalia Adininggar Widyasanti juga memberikan penjelasan mengenai faktor-faktor yang berkontribusi pada tingginya inflasi di Tanjung Pandan. Menurutnya, inflasi tertinggi di daerah ini disebabkan oleh kenaikan harga beberapa komoditas, antara lain ikan segar dengan angka inflasi sebesar 0,58%, beras 0,40%, angkutan udara 0,11%, kangkung, dan kacang panjang masing-masing sebesar 0,07%.

Selain inflasi bulanan, BPS juga mencatat inflasi tahunan di berbagai daerah. Tanjung Pandan kembali menduduki peringkat pertama dengan inflasi tahunan mencapai 5,03%, diikuti oleh Sumenep dengan angka 4,47%.

Secara keseluruhan, dari 90 kota IHK yang diamati, seluruhnya mengalami inflasi tahunan. Sebanyak 50 kota mengalami inflasi tahunan yang lebih tinggi daripada tingkat inflasi nasional. Di Pulau Sumatera, inflasi tertinggi tercatat di Tanjung Pandan 5,03%, sementara di Pulau Jawa, inflasi tertinggi terjadi di Sumenep dengan angka 4,47%.

Di Kalimantan, Kota Baru mencatat inflasi tertinggi tahunan sebesar 3,66%. Di wilayah Kepulauan Bali Nusa Tenggara, inflasi tertinggi terjadi di Kota Bima dengan angka 0,63%, dan deflasi terendah tercatat di Waingapu dengan angka 0,36%. Di Pulau Sulawesi, inflasi tertinggi terjadi di kota Luwuk dengan angka 4,37%, sedangkan inflasi terendah tercatat di Kota Manado dengan angka 1,16%, yang juga merupakan kota IHK dengan tingkat inflasi tahunan terendah secara nasional. Sementara di wilayah Maluku Papua, inflasi tertinggi tercatat di Manokwari dengan angka 5,26%, yang juga merupakan kota IHK dengan tingkat inflasi tahunan tertinggi secara nasional.

Menurut Amalia, inflasi tahunan pada September 2023 sebesar 2,28%, dan ini didominasi oleh komponen inti. Komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2%, yang memberikan kontribusi terbesar terhadap tingkat inflasi tahunan sebesar 1,28%. Komoditas yang mendominasi kontribusi inflasi antara lain biaya kontrak rumah, emas perhiasan, biaya sewa rumah, upah asisten rumah tangga, ikan segar, dan biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

Sementara itu, komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan sebesar 1,99%, dan memberikan kontribusi sebesar 0,38%. Komponen ini didominasi oleh rokok kretek filter, rokok putih, rokok kretek, tarif kereta api, dan tarif air minum PAM.

Terakhir, komponen harga yang bergejolak mengalami inflasi sebesar 3,62%, dengan kontribusi sebesar 0,62%. Komoditas yang dominan dalam kontribusi inflasi selama setahun terakhir adalah beras, bawang putih, daging ayam, daging ayam ras, kentang, dan tahu mentah.

Data inflasi ini memberikan gambaran mengenai perubahan harga-harga di seluruh Indonesia, yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat. Dengan peningkatan inflasi yang signifikan di beberapa daerah, peran pemerintah dan regulator ekonomi menjadi penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat. (Sumber : Detik, Editor : Sinyu Pengkal KBO Babel)

Posting Komentar

0 Komentar