Go Gibran: Rugi Golkar Jika Tidak Dinakhodai Orang Nomor Dua di Pemerintahan

Go Gibran: Rugi Golkar Jika Tidak Dinakhodai Orang Nomor Dua di Pemerintahan



Jakarta – Pasca ditetapkan Wapres Terpilih 2024-2029, Gibran Rakabuming Raka dinilai sangat strategis untuk memegang salah satu posisi ketua partai.

“Partai yang potensial itu bukan PDI Perjuangan atau partai lainnya. Tapi Partai Golongan Karya,” terang H.A.Bashar, SH, MH, Ketua Umum Relawan Go Gibran di Jakarta, Sabtu (27/4/2024)

Menilik perkembangan politik sekarang, lanjutnya, PDI Perjuangan tak lagi mengakui Gibran sebagai kadernya. Begitu pun sinyal partai berlambang banteng itu akan berada di posisi oposisi di luar pemerintahan.

“Ini akan memperkuat pemerintahan Prabowo Subianto – Gibrang Rakabuming Raka 2024-2029 di parlemen dengan Bapak Prabowo memegang Partai Gerindra, Mas Gibran di Partai Golkar,” tambahnya.

Bukan itu saja, kondisi strategis lainnya, Partai Golkar akan sangat diuntungkan jika Walikota Solo itu menjadi ketua umum Golkar.

“Golkar tidak pernah jauh-jauh dari pemerintahan. Posisi wapres juga sangat strategis. Maka merugilah Golkar jika tidak dinahkodai orang nomor dua di pemerintahan,” tandas H.A.Bashar yang juga Ketua Umum Gerakan Karya Justitia Indonesia (GKJI) ini.

Menurut H.A.Bashar, Partai Golkar adalah partai besar. Partai yang ideologinya kekaryaan dan selalu berorientasi untuk menjadi bagian dari pemerintahan.

“Ini ada sejarahnya. Wapres ke-10 periode 2004-2009, Jusuf Kalla berhasil menduduki ketua umum Golkar. Beliau (JK) dilantik Oktober 2004, dua bulan kemudian, Desember 2004, Jk terpilih sebagai ketua umum di Munas Golkar,” paparnya.

Melihat Gibran Rakabuming Raka yang masih muda ketimbang banyaknya sosok-sosok seniro di Golkar, H.A.Bashar menampik jika Partai Golkar harus terus mengikuti perkembangan politik yang terus dinamis.

“Politik hari ini berorientasi terhadap anak muda karena pemilih terbanyak berasal dari kalangan muda. Golkar harus punya tokoh yang juga berasal dari anak muda,” tambahnya.

Sinyal-sinyal Gibran berpotensi menjadi ketua umum Golkar terus terbuka. Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto sebelumnya mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo dan putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka, sudah masuk keluarga besar partai berlambang pohon beringin itu. Partai Golkar terbuka bagi kader terbaik bangsa.

Tapi itu terhalang dengan AD/ART yang berlaku di partai beringin tersebut.

“Aturan itu layaknya konstitusi yang mesti dijunjung tinggi. Untuk mengubahnya pun, nyaris mustahil karena harus menggelar munaslub. Karena politik itu dinamis, bisa saja dalam satu malam orang luar menjadi ketua umum. Oleh karena itu, kepastian status Pak Jokowi dan Mas Gibran tinggal menunggu pengesahan resmi sebagai kader Partai Golkar,” tuntas H.A.Bashar. (red)

Posting Komentar

0 Komentar